Kinerja Guru Madrasah: Chalk and Talk are never enough


 

             Artikel ini telah dimuat di majalah BAKTI, Maret 2012


            Saat ini, keberadaan sekolah Islam (baca: MI, MTs dan MA) masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Faktanya, madrasah masih menjadi pilihan kedua setelah sekolah umum, kalau tidak mau dikatakan bahwa madrasah masih menjadi sekolah penampung siswa ‘buangan’ dari sekolah umum. Padahal madrasah sebenarnya menjanjikan ‘pendidikan plus’ yaitu pendidikan umum yang dilengkapi pendidikan khusus agama Islam.  
            Tentunya harapan bahwa lulusan madrasah menjadi ilmuwan cerdas dan berkarakter kuat karena dibekali ilmu agama yang kuat bukanlah hanya sebatas angan-angan saja. Namun sepertinya kenyataan masih berbicara lain karena sejujurnya, mutu madrasah belum mampu disejajarkan dengan sekolah umum. Kenyataan ini haruslah menjadi keprihatinan  dan pemikiran semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan di madrasah (stake holders) agar kedepan madrasah mampu mewujudkan cita-cita mulia itu.
            Banyak pihak yang menyalahkan ‘input’ yang jelek sebagai salah satu kambing hitam penyebab kurang majunya sekolah Islam, mengingat umumnya siswa-siswa madrasah berasal dari keluarga golongan ekonomi lemah. Keadaan orang tua yang masih berkutat dengan masalah ekonomi ini berimbas pada kurangnya dukungan mereka terhadap pendidikan anaknya. Fenomena ini mengakibatkan kurangnya motivasi anak untuk belajar. 

            Padahal motivasi yang tinggi sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan belajar mereka. Sekolah masih dianggap sebagai ‘ritual’ wajib semata yang harus dijalani anak setiap hari dari tingkat MI sampai MA, tanpa dibarengi harapan bahwa dengan sekolah anak bisa meraih masa depan yang lebih baik.
            Mengingat kurangnya peran orang tua dalam mendukung sekolah anaknya yang berakibat rendahnya motivasi anak dalam belajar, peran guru di lingkungan madrasah haruslah di optimalkan. Guru diharapkan bisa menjadi ujung tombak suksesnya pendidikan di madrasah. Porter (2000) mengatakan bahwa ‘input’ siswa yang buruk bukan kendala untuk meraih ‘output’ yang gemilang.                     Merupakan hal yang wajar bila sekolah yang mendapatkan siswa-siswa pandai akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Namun bila sekolah mampu merubah siswa-siswa ‘biasa-biasa saja’ menjadi siswa-siswa yang pandai atau paling tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya adalah suatu prestasi.                 
            Hal ini dapat terwujud dengan campur tangan banyak pihak, terutama para guru yang setiap hari berkutat dengan siswa di sekolah. Bila hasil belajar para siswa Madrasah saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan, tentu akan wajar bila kemudian muncul pertanyaan “Sudah maksimalkah guru memotivasi siswa untuk belajar dan meraih prestasi?”.
            Kualitas Negara ditentukan oleh kualitas generasi mudanya, kualitas generasi muda bisa dilihat dari tingkat pendidikannya sedangkan pendidikan sebagai komponen terpenting dari kemajuan bangsa ditentukan oleh para penyelenggara pendidikan itu sendiri, termasuk guru di dalamnya. Karena pentingnya peran guru, maka HAB Kementrian Agama ke-66 ini, harus dijadikan titik awal reformasi kinerja guru madrasah yang nantinya akan membawa madrasah sebagai sekolah unggulan berwawasan Islam. 
            Kementrian Agama sebagai tempat bernaungnya madrasah diharapkan bisa memberikan dukungan penuh terhadap reformasi guru madrasah ini.  Kedepan harapannya, guru harus mampu membawa paradigma baru dalam mengajar sehingga ia bisa disebut guru ideal dan efektif. Guru efektif menurut (Jensen & Kiley, 2000) tidak sekedar chalk and talk, yaitu guru yang datang memberikan materi atau catatan di kelas (chalk) dan mengajar atau mentransfer ilmu (talk). 
            Selanjutnya Jensen dan Kiley (2000) mengatakan bahwa guru efektif haruslah mempunyai banyak skill yaitu kombinasi dari keilmuwannya (knowledge base), kemampuan mengajar (teaching skill) dan moral yang baik (dispositions).  Seorang guru harus menguasai ilmu secara penuh (knowledge base) yang artinya seorang guru harus paham betul akan ilmu yang diajarkannya termasuk teori-teori belajar dan mengajar. Untuk itu guru dituntut selalu meningkatkan kemampuannya dengan banyak menggali ilmu dari berbagai sumber. 
            Ibarat computer, ilmu seorang guru harus selalu di’up grade’ agar selalu ‘up to date’ sehingga selalu sesuai dengan kemajuan jaman. Tidak hanya itu, dengan pengetahuannya, seorang guru diharapkan mampu menciptakan suatu karya tulis maupun karya inovatif lainnya yang dapat menunjang kariernya. Ilmu seorang guru harus bermanfaat bagi guru itu sendiri dan siswa-siswanya, dan juga bagi orang lain yang membaca atau menggunakan karyanya. 
            Selanjutnya, seorang guru harus mempunyai kemampuan mengajar yang baik (teaching skills). Seorang guru harus paham bagaimana menerapkan berbagai teori dan strategi mengajar pada situasi kelas dan siswa yang berbeda-beda. Siswa bisa diibaratkan sebagai konsumen. Dengan berbagai cara diharapkan guru bisa membuat konsumen (siswa) agar tertarik dengan produk yang ia tawarkan (pelajaran). 
            Yang tak kalah pentingnya, seorang guru harus mempunyai karakter dan moral yang baik (dispositions). Ia harus bisa membawa iklim yang positif di dalam kelas sehingga setiap kehadirannya selalu dinantikan oleh siswa. Seorang guru harus bisa mengontrol perilaku siswa di setiap kesempatan dan tidak perlu menunggu siswa berperilaku negatif. 
            Pendidikan karakter bisa diterapkan oleh guru melalui contoh nyata dan kata-kata bijak sehingga terbentuk karakter siswa yang baik yang paham bahwa perbuatan buruk seperti: korupsi, maksiat, penyuapan dan sebagainya adalah haram hukumnya. Karakter yang baik adalah kunci kesuksesan suatu bangsa.  
            Mengingat pentingnya peran guru sebagai garda terdepan kemajuan madrasah, sebaiknya guru kembali merefleksi perjalanan kariernya sebagai guru. Pertanyaan pada diri sendiri tentang apakah ia telah menjadi guru efektif perlu diajukan. Yang paling penting adalah, guru segera mereformasi diri dengan mengambil langkah konkrit agar menjadi guru efektif. Bila itu terlaksana, Insya Allah tidak diragukan lagi bahwa Madrasah akan menjadi laboratorium pencetak ilmuwan berwawasan Islam yang handal.

 

 

No comments:

Post a Comment