Artikel ini telah dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat tanggal 24 Februari 2010
Keputusan pemerintah
dalam hal ini menteri pendidikan untuk menjadikan Ujian Nasional bukan sebagai
satu-satunya penentu kelulusan mulai tahun ini sangat perlu disambut baik oleh
masyarakat terutama insan pendidikan. Nantinya kelulusan siswa disamping
ditentukan oleh nilai Ujian Nasional juga ditentukan oleh hasil proses belajar (nilai
rapor) dan hasil Ujian Sekolah. Tentunya nilai Ujian Nasional akan tetap
mendapatkan porsi yang lebih tinggi (60%) dibanding nilai sekolah (40%).
Intinya, usaha yang dilakukan siswa dan guru di sekolah mulai tahun ini akan
dihargai.
Keputusan
pelaksanaan Ujian Nasional dengan formula baru ini tentu saja melegakan semua
pihak. Lebih-lebih guru mata pelajaran merasa dihargai usahanya selama ini
untuk membantu siswa belajar karena nilai rapor juga diperhitungkan dalam
menentukan kelulusan siswa. Akan lebih melegakan lagi apabila kedepannya nanti,
nilai pelajaran non-unas juga dipertimbangkan untuk meluluskan siswa.
Bila dulu Ujian Sekolah
dilaksanakan setelah pelaksanaan Ujian Nasional sehingga terkesan diremehkan
karena perhatian siswa terkuras habis untuk Ujian Nasional. Namun mulai tahun
ini pelaksanaan Ujian Sekolah justru mendahului Ujian Nasional. Strategi ini
diharapkan siswa akan belajar sungguh-sungguh seperti ketika mereka hendak
mengerjakan Ujian Nasional.
UN
dan Kejujuran
Dibalik
kemudahan yang diberikan pemerintah, masih banyak kalangan yang meragukan
pelaksanaan Ujian Nasional nanti akan dilakukan dengan penuh kejujuran. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa telah terjadi banyak kecurangan dalam pelaksanaan
Ujian Nasional selama ini. Semoga dengan diberlakukannya ujian bentuk baru, tidak
akan dibarengi dengan penerapan
trik-trik kecurangan baru.
Logikanya,
siswa yang lulus adalah siswa yang berakhlak baik, yang mendapatkan nilai Ujian
Nasional yang baik dan juga baik pula nilai yang dicapainya selama proses
pembelajaran.
Siswa yang berakhlak buruk dan pencapaian nilainya rendah selama proses pembelajaran tentu tidak layak diluluskan. Sayangnya, kadang-kadang demi gengsi banyak pihak kerap melakukan kecurangan karena jika siswa yang tidak lulus banyak, tentu sekolah dan banyak pihak akan menanggung malu. Dikhawatirkan, demi untuk menutup rasa malu dan gengsi, para pelaku pendidikan ini berani mengesampingkan hati nurani.
Kalau
dulu, kecurangan yang terjadi adalah bagaimana siswa sukses dalam mengerjakan
soal Ujian Nasional, sekarang ini ditambah dengan bagaimana siswa mendapatkan
nilai rapor dan Ujian Sekolah yang baik. Dikahawatirkan pihak sekolah akan
berupaya menaikkan nilai raport yang diperoleh siswa agar dapat membantu siswa
lulus dalam Ujian Nasional. Bisa terjadi nilai rapor siswa pandai justru lebih
rendah daripada siswa yang seharusnya bernilai rendah. Nilai rapor yang tinggi
sangat dibutuhkan oleh para siswa sebagai bekal pertama lulus ujian.
Tentu
sah-sah saja berusaha melakukan berbagai cara untuk mendapatkan yang terbaik.
Tapi tentu tidak benar bila kesuksesan dimulai dari kecurangan-kecurangan dengan
meninggalkan hati nurani. Semua usaha
yang dilakukan tentu bertujuan mulia yaitu membantu siswa yang adalah penerus
bangsa di masa depan agar sukses dalam Ujian Nasional. Namun bila caranya
salah, pastilah hasilnya jauh dari
mulia. Boleh jadi siswa akan terbebani dengan hasil palsu yang mereka terima.
Atau mereka akan kewalahan menerima pelajaran di sekolah mereka yang baru
nantinya karena kemampuan mereka yang sebenarnya tidak sesuai dengan hasil yang
tertulis dalam nilai akhir yang mereka dapatkan. Jangan sampai karena
mengedepankan ego, semua pihak mengesampingkan hati nurani, sehingga demi
menutup rasa malu terlalu mahal harga diri yang harus dibayarkan. Bisa jadi tujuan untuk mendapatkan nilai
tambah dalam hidup melalui pendidikan yang baik justru termentahkan karena
siswa lulus setelah mereka mendapatkan tambahan nilai dari sekolah.
Lilis Ummi Fa’iezah, S. Pd. MA.
Guru MTsN Prambanan Sleman, lulusan
Curtin University of Technology, Australia.

No comments:
Post a Comment